judul diatas sebenarnya adalah suatu pertanyaan yang berubah mejadi pernyataan. Kombinasi kata-kta ini sudah mengisi hidup saya selama lebih dari 5 tahun, dan kembali muncul menjadi perdebatan publik dan perdebatan dalam diri saya sendiri, kemarin hari rabu ketika madrasah falsafah sophia tobucil & klabs, sebuah diskusi filsafat berbasis sebuah jargon bahwa semua orang adalah filsuf.

diskusi berlangsung seru, dan saya mendapat banyak masukan, dan ide yang menyadrakan saya untuk kembali menelaah pilihan hidup saya untuk selalu galau.

ada dua kondisi yang melekat pada diri saya seuisa diskusi itu, yang pertama adalah ada kemungkinan kegalauan yang selalu saya hadapi sudah menjadi kebiasaan sehingga saya menjadi imun. Dan kondisi kedua adalah galau yang berada diposisi tengah. Galau dalam perjalanannya bisa membuat menjadi sensitif kritis atau malah menjadi apatis.

atas dua kondisi itu saya kembali merunut kondisi dan keadaan galau yang sering saya hadapi.

bagi saya galau adalah sebuah momen dimana saya bisa menarik diri, melamun, berpikir dan membuat jarak dengan banyak hal. Menjadi diri sendiri seutuhnya. Dan proses ini bukan berarti proses kekosongan belaka, di momen galau saya jstru bisa berpikir lebih leluasa, bebas dan terkadang jernih. Galau adalah moment di antara pilihan, sebelum pilihan, atau setelah pilihan. Momen ketika kita berpikir bebas, sebelum menentukan sesuatu.

bagi saya galau adalah momen puncak dimana di dalamnya ada bermacam momen-momen lain, galau bisa dibagi menjadi 2 kubu yang dominan, galau negatif dan galau positif. Negatif disini sebenarnya bukan merujuk pada negatif ala dunia umum yang berhubungan dengan sesuatu yang buruk a.k.a jelek. Namun negatif di sini, saya artikan lebih sebagai asosiasi yang menjelaskan sebuah kondisi tertentu, sebagai contoh momen yang dikelompokkan dalam galau negatif adalah resah, gelisah, gamang, dll.

kubu dominan galau lain adalah galau positif, positif di sini juga bukan hanya merujuk pada kesan yang di dapat dari pandangan umum tentang positif, namun galau positif lebih menekankan pada sebuah momen yang menenangkan, menyenangkan serta mendamaikan.

dan kubu galau positif inilah yang bagi saya menyenangkan dan akan menjadi pokok bahasan dalam tulisan ini. Dalam banyak kesempatan kondisi galau bisa saya ciptakan, terutama dalam momen-momen keramaian.

dititik galau ini saya merasa dalam kondisi nyaman, kondisi ini telah saya lalui dan pegang dalam hari-hari saya, namun setelah diskusi kemarin, ternyata saya tersadar, bahwa kondisi nyaman atas prinsip hidup yang dipilih bisa juga sangat mengganggu.

maka, pernyataan galau sebagai pilihan hidup, kini menjadi bahasan menarik dalam otak saya, berulang-ulang frasa ini diuji dengan mempertanyakan kembali hakikat, sampai manfaatnya. Proses ini masih terus berlangsung, belum ada jawaban, bahkan mungkin bisa jadi tidak ada jawaban.

namun, jawaban memang bukan segalanya tetapi dialektika dalam hidup, bagi saya lebih bisa diterima dari sekedar jawaban, mungkin itu sebabnya saya selalu merasa rindu jika tidak sedang galau, mungkin juga itu alasannya saya bisa ‘sarapan pagi’ sampai ‘makan malam’ dengan lagu-lagu dari sigur ros, mandalay, cocteau twins, mum, July skies, The Milo, sampai Immanu_El.

mungkin juga itu sebabnya saya sering merasa bahwa hidup tidak pernah ada dalam satu garis lurus. Karena walau waktu itu berjalan konstan, namun kehidupan dan segala yang ada didalamnya sama sekali tidak pernah monoton, seberapa pun rutinitas itu membuat manusia seperti berjalan konstan, tapi dialektika akan terus berjaya.

This article has 1 comments

Leave a Reply