Di awal tahun 2017, Opera meluncurkan sebuah peramban komputer baru selain opera browser itu sendiri yang disebut dengan Opera Neon. Opera Neon ini cukup menarik bagi saya dikarenakan hadir dengan desain yang unik. selain menampilkan function bar di bagian kiri seperti desain khas nya opera browser di mac. Opera neon menghadirkan visualisasi tab yang bagus, dengan konsep balon balon tab yang diletakkan di sisi sebelah kanan. Di bagian tengah terdapat mesin peramban yang dapat di split menjadi dua peramban.

Yang cukup mengejutkan, ternyata Opera Neon ini hadir menggunakan engine dari chrome, tampilan web yang berjalan baik di chrome secara otomatis juga dapat dirender dengan baik oleh peramban ini. Memory yang digunakan pun ternyata tidak sehaus chrome. Hanya saja, theme dan extension yang terdapat pada chrome tidak bisa di install di Opera Neon ini.

Dikarenakan menggunakan engine chrome namun tidak seboros memory chrome, Saya memilih untuk memindahkan default browser saya kepada Opera Neon ini. Impresi pertama cukup produktif, tampilan browser yang segar pun mampu menjaga mood saat sedang bekerja. Namun pengalaman positif ini tidak berlangsung lama, setelah sebulan pemakaian, beberapa web tidak mampu ditampilkan dengan baik, bahkan beberapa situs seperti trello.com di block oleh peramban ini.

Beberapa bug yang cukup major ini, membuat saya mau tidak mau kembali memilih mantan kekasih chrome sebagai peramban utama. Dan setelah berkonsultasi dengan mas sandalian sang Opera ambasador bagian bantul raya, ternyata opera neon ini adalah salah satu proyek iseng dan coba coba. Sungguh disayangkan, padahal Opera Neon ini mampu menjadi browser yang memberikan warna baru di kancah maya. Harapan saya sih, semoga pihak Opera mau menseriusi peramban ini, apalagi ditambah dengan defaul ads blocker.

 

à la prochaine
-masbenx-

This article has 2 comments

    • masbenx Reply

      masih mencari browser yang sesuai sama workspace nih.. udah mulai jenuh sama consume memory nya chrome.. 🙂

Leave a Reply