Justice League : hanya liga es

Sebenarnya hari ini saya merencanakan untuk menulis review tentang boxset album terbaru endank soekamti yang saya terima kemarin. Hal yang memang suda saya rencanakan sejak sebulan yang lalu. hitung hitung mengisi kekosongan postingan saya di bog ini. Biar tidak disindir sebagai blogger yang jarang ngeblog. πŸ™‚

paket boxset premium endank soekamti yang saya terima kemarin

Tapi hal tersebut berubah semenjak negara api menyerang (dicoret karena gak lucu lagi) tawaran mendadak dari teman untuk nobar film justice league. Sebuah film superhero yang di buat oleh DC untuk menandingi ketenaran Avenger nya marvel yang review nya pernah saya tulis di blog ini, sayang nya artikel tersebut suda hangus bersama blog masbenx yang ada di server lama. -petikan moral : jangan lupa untuk selalu backup blog dan menggunakan hosting terpercaya-

Justice league merupakan film yang di sutradarai oleh @zacksnyderΒ yang kemudian dilanjutkan oleh Joss Whedon di tengah tengah produksi, merupakan sutradara dari tiga film DC lain (Watchmen, Man of steel dan Batman v Superman). Jadi jangan heran kalau di film ini akan terasa kental aroma “artsy” screen khas om zack seperti yang bisa kita rasakan di Man of steel, Batman v Superman, atau bahkan 300.

Film sendiri dibuka dengan narasi yang menggambarkan pengkultusan Superman yang telah meninggal karena pertempuran melawan Doomsday di film Batman v Superman. Lalu dilanjut pengenalan karakter-karakter calon anggota Justice League, seperti The Flash, Aquaman, dan Cyborg, serta aksi heroik dari Batman dan mba Wonder Woman.

Di point ini pada awalnya saya merasa janggal. Entah memang ini maksud tersendiri dari om zack atau bagaimana, saya merasa plot penggambaran superman terkesan lambat, sedang perkenalan karakter lainnya terasa cepat dan tidak mampu menggambarkan kemampuan per karakter. Kesan nya om zack beranggapan penonton Justice League suda khatam semua komik DC dan mengikuti tv serial DC. Namun hal ini menjadi masuk akal begitu alur cerita mulai memasuki turning point.

Pada film ini, rumus antiklimak (yang menurut saya boring) milik DC kembali dipakai. Musuh yang terlalu mudah dikalahkan di akhir serial dan penyelesaian konflik yang terlalu sederhana (bahkan janggal menurut saya) kembali terulang. Plot yang tersusun rapi dari awal tidak berhasil menyelamatkan alur di putaran akhir cerita. Bantuan Joss Whedon yang merupakan alumnus writer dari Avenger pun belum mampu menyelamatkan plot boring khas DC. Namun setidak nya minimal kita dapat menikmati beberapa joke khas Avenger yang disematkan ke dalam Justice League ini. Bahkan kita bisa mendapati post-credit scene khas marvel di film ini. Tidak hanya satu, tapi dua buah post-credit scene πŸ™‚

Kesimpulan nya, ada dua hal yang sangat tidak masuk akal di film ini. Yang pertama adalah kekuatan dan superioritas dari Superman. Seharus nya film ini namanya bukan “Justice League” namun “Superman dan kawan kawan” karena aksi super heroik nya yang menurut saya total meniru komik One Puch Man. Kedua adalah senyum dan paha atas milik mba @GalGadot, yang membuat saya tidak berniat untuk walk out dari theater cepat cepat. Dan memang kalau boleh jujur, GalGadot adalah penyelamat film ini.

senyumanmu kwi lho mba~

We all die. The goal isn’t to live forever, the goal is to create something that will.
-Chuck Palahniuk-

Leave a Reply