Saat semua dimulai dengan pait manis..

Tiga bulan, enam belas hari dan delapan jam adanya dari postingan saya yang terakhir kali tercatat di blog ini. Sangat jauh dari target awal yang niat nya ngeblog sekali setiap minggu. Tapi memang beginilah keadaan blog nya seorang blogger yang tidak mampu menulis blog. Banyak aja alasan yang di buat buat untuk menguatkan rasa malas menulis di sini. Tapi memang bagaimanapun juga memang lebih menyenangkan menulis di media sosial dengan karakter yang tidak perlu banyak banyak. 🙂

Lalu semua berubah ketika negara api menyerang. Seorang kawan meminta review terhadap produk baru yang telah ia luncurkan. Walaupun tidak meminta untuk di tulis dalam bentuk blog. Namun seperti nya ini bisa jadi semangat baru untuk ngeblog lagi (semoga semangat terus bergulir). *Dalam bentuk review produk*

Pait Manis” sebuah nama yang tidak mainstream untuk produk yang mulai mainstream di kalangan anti mainstream jogja. Diciptakan oleh @bonsetoaji dan kawan kawan nya, kali ini saya mendapat kesempatan untuk mencoba cold brew single origin. Iya, single kayak saya.. dan yang jual juga.. 😀

Melalui nama brand nya, Pait Manis mampu merepresentasikan rasa dari produk nya. Ya memang dimana mana yang namanya single origin akan terasa pait di awal, dan dilanjutkan dengan after taste rasa manis. Namun tak seperti single origin lainnya yang pernah saya rasakan. Rasa bitter dari kopi gayo yang diolah dengan slow drip ini menghasilkan bitter yang terasa menyenangkan. Rasa rasanya seperti ditolak sama gebetan bukan karena dia gak cinta, tapi karena dia gak ingin kalo nanti pacaran malah bikin hubungan yang saling mengekang dan awkward.

Hal lain yang menyenangkan dari produk ini adalah aroma nya, ketika pertama kali membuka botol akan terasa aroma coklat yang lumayan candy. Sampai sampai untuk awal nya saya sempat meragukan ke”kopi”an dari cold brew ini.  After taste yang dihasilkan juga unik, rasa manis nya mampu bertahan lama. Godaan untuk mencecap bibir sendiri setelah menikmati kopi ini akan terasa sangat besar. Hanya saja rasa malu saya lebih besar dibanding keinginan untuk mencecap bibir sendiri, lawong le njajal ya pas di tempat umum. 😳

Kekurangan produk ini bagi saya ada dua hal, yang pertama adalah faktor kemasan. Menurut saya pribadi, sangat canggung menikmati cold brew ini dalam sebuah botol plastik. Sehingga untuk menikmati cold brew yang hqq, saya jadi membutuhkan gelas dingin, atau kalau tidak gelas berisi es batu. Kedua, cold brew ini tidak dapat saya nikmati di sore ataupun malam hari. Entah kenapa, setelah mencoba produk ini selama dua kali di waktu malam, selalu membuat saya terjaga hingga mendekati subuh. Padahal biasanya minum kopi bagi saya tidak akan mempengaruhi kemampuan saya untuk terlelap pada waktunya. Namun cold brew cukup berbeda, sehingga kemungkinan tidak bisa saya nikmati selepas sore, sembari menikmati matahari tenggelam di tengah kegiatan menulis puisi ataupun caption tentang senja seperti yang dilakukan kawan mainstream 2.0.

Tidak terasa sudah enam paragraf dan lebih dari empat ratus kata yang sudah saya ciptakan dalam postingan kali ini. Mungkin sudah cukup untuk mengisi kekosongan lebih dari tiga bulan ini. Setelah mempublish tulisan ini saat nya mikir mau posting apalagi biar bisa tercapai target satu minggu satu posting seperti yang disabdakan oleh mentri vindrasu.

 

hail..

 

-masbenx-

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *